Resensi Buku: Menikmati Hidup Cara Rasulullah SAW

Diantara sekian banyak prinsip dalam ajaran Islam adalah siap kecewa. Dalam artian, kondisi psikologis yang muncul saat seseorang bersikap realistis menerima kenyataan yang berbeda dengan apa yang diharapkan. Disitu, yang ideal tidak sama dengan realita.


Kecewa merupakan perasaan kecil hati, tidak puas karena harapan atau keinginannya tidak terkabul. Setiap orang di dunia ini pasti pernah mengalaminya. Kekecewaan pastinya tidak bisa kita hindari. Oleh sebab itu, kita tidak perlu menghindar, tapi kita perlu tahu bagaimana cara mengatasinya dengan baik dan benar.

Di dunia ini tidak ada yang sejati, termasuk kawan atau pun lawan. Bisa saja suatu saat seorang kawan sejati berubah menjadi musuh, atau sebaliknya. Karena itulah Rasulullah SAW berpesan agar kita bersikap ‘wajar’ dalam membenci atau pun mencinta, seperti sabda beliau :


Dari Abu Hurayrah r.a ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Cintailah kekasihmu secara wajar (tidak berlebihan) siapa tahu suatu saat menjadi musuhmu. Bencilah musuhmu secara wajar (tidak berlebihan) siapa tahu suatu saat jadi kekasihmu
 (H.R.Tirmidzi, al-Bayhaqiy, al-Thabraniy)

Setiap orang pasti mempunyai harapan dan rencana. Tentunya kita ingin hal tersebut terkabul. Tapi kita adalah manusia biasa yang hanya bisa mempunyai harapan dan rencana. Di sisi lain, Allah lebih mempunyai kuasa dan tahu mana yang terbaik untuk kita. Kadang apa yang terjadi dalam hidup tidak sesuai dengan harapan dan rencana kita. Tentunya hal tersebut menimbulkan perasaan kecewa.

Di dalam buku ini, dibahas sebuah kisah yang banyak mengandung hikmah. Alkisah, ada seorang alim disebuah desa yang selalu menjadi rujukan masyarakat. Ia memiliki seorang istri yang cantik dan sangat teramat dicintainya. Suatu hari, istri sang alim meninggal dunia dan ia bersedih dengan kesedihan yang mendalam. Begitu sedihnya, sampai ia menutup diri dan tidak lagi mau menerima siapa saja yang datang kepadanya, termasuk enggan menjawab pertanyaan dan memberi fatwa sebagaimana kebiasaannya. Situasi tersebut menjadi buah bibir masyarakat sekitar. Suatu hari, seorang wanita dari desa tetangga datang untuk mencoba menyadarkan sang alim dengan sebuah pertanyaan; seorang tetanggaku dititipi amanat oleh seseorang selama berpuluh-puluh tahun. Suatu hari yang menitipi amanat datang dan meminta kembali amanat tersebut, namun yang dititipi menolak. Dalam hal ini, bagaimana semestinya? Awalnya sang alim tidak mau menjawab pertanyaan tersebut. Akhirnya, sang alim bersedia menjawabnya; itu gampang. Jelas yang salah adalah yang dititipi amanat karena pemilik hak telah meminta kembali haknya yang telah dititipkan. Bagi orang yang dititipi amanat tidak ada hak untuk tidak mengembalikan dan tidak boleh menolak permintaan yang menitipkan. Lalu wanita tersebut berkata; kalau demikian, mengapa engkau bersedih wahai alim? Istri, harta, anak dan semua kenikmatan yang ada pada kita adalah amanat Allah yang dititipkan, lalu ketika Allah mengambil kembali amanat tersebut, mengapa kita bersedih apalagi menolak? Saat itu, sadarlah sang alim. Ia kembali aktif memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat seperti kebiasaannya dahulu.

Dari kisah tersebut, ada hikmah yang bisa kita ambil. Segala kenikmatan yang hilang dapat menimbulkan perasaan kecewa. Tapi kita perlu ingat, segala sesuatu tidak ada yang abadi selain Allah. Allah mempunyai kuasa yang sangat tak terbatas. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Jadi kita harus siap merasakan perasaan kecewa. Tapi yakinlah, kekecewaan itu suatu saat pasti akan melahirkan kebaikan jika kita selalu yakin bahwa Allah pasti mempunyai rencana yang lebih indah untuk kita kelak.


Judul               :   Menikmati Hidup Cara Rasulullah SAW
Penulis            :   Haji Abbas Muhammad Basalamah (HAMBA)
Penerbit          :   Pustaka Ibnu Abbas - Depok
Cetakan           :   Pertama, Januari 2010
Halaman          :   275 halaman

0 komentar:

Posting Komentar