Teori Perilaku Konsumen

Pengertian konsumen (consumer) menurut Philip Kotler dalam bukunya Prinsiples Of Marketing adalah semua individu dan rumah tangga yang membeli atau memperoleh barang atau jasa untuk dikonsumsi pribadi. Menurut pengertian Pasal 1 angka 2 UU PK, konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Sedangkan menurut Hornby, konsumen  adalah seseorang yang membeli barang atau menggunakan jasa; seseorang atau suatu perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu; sesuatu atau seseorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang; setiap orang yang menggunakan barang atau jasa.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa konsumen merupakan pemakai atau pengguna barang atau pun jasa baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan orang lain. Secara sederhana dapat diartikan sebagai pengguna barang atau jasa. Sebagai makhluk hidup, kita pasti mempunyai kebutuhan yang berbeda. Begitu pula perilaku kita untuk memenuhi kebutuhan yang tentunya berbeda antara konsumen yang satu dengan konsumen yang lain. Akan tetapi, setiap konsumen pasti akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya pada saat mengkonsumsi suatu barang atau jasa.

Pengertian perilaku konsumen seperti diungkapkan oleh Mowen (2002:6) berpendapat bahwa perilaku konsumen (consumer behavior) adalah studi tentang unit pembelian (buying unit) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi dan pembuangan, barang, jasa, pengalaman serta ide-ide. Sementara itu Swastha dan Handoko (2000:10) berpendapat bahwa perilaku konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan menentukan kegiatan-kegiatan tertentu. Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (1996) keputusan pembelian dari pembeli sangat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi dari pembeli.

Faktor Budaya memberikan pengaruh yang sangat luas terhadap perilaku konsumen. Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya. Keinginan dan perilaku seseorang tergantung dari sebuah budaya. Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras dan area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering kali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Selain faktor budaya, perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh Faktor Sosial. Beberapa contoh faktor sosial adalah kelompok kecil, keluarga serta peranan dan status sosial konsumen. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Definisi kelompok adalah dua orang atau lebih yang berhubungan untuk mencapai tujuan bersama. Keluarga dapat pempengaruhi perilaku pembelian. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat.

Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh Karakteristik Pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli. Umur sangat mempengaruhi keputusan seorang konsumen dalam melakukan pembelian barang atau jasa. Tentunya seorang anak yang belum bekerja tidak akan melakukan pembelian secara berlebihan. Sebaliknya, seorang yang sudah bekerja dan mempunyai penghasilan lebih berpotensi untuk melakukan pembelian yang lebih besar. Selain umur, pekerjaan juga mempengaruhi pembelian seorang konsumen. Uang adalah sebuah alat untuk melakukan pembelian. Seseorang yang bekerja dengan penghasilan lebih besar tentunya lebih berpotensi untuk melakukan pembelian yang lebih besar dibandingkan dengan seseorang yang bekerja dengan penghasilan yang lebih kecil. Situasi ekonomi juga mempengaruhi tingkat pembelian di sebuah negara. Negara yang sedang mengalami krisis akan berdampak pada menurunnya tingkat ekonomi masyarakatnya. Uang akan menjadi barang langka yang tentunya tidak akan digunakan untuk keperluan yang tidak mendesak. Hal ini menyebabkan tingkat pembelian akan cenderung menurun. Pengaruh gaya hidup konsumen sangat tergantung pada konsumen itu sendiri. Bisa kita lihat belakangan ini banyak sekali bermunculan department store di sekitar kita. Hal ini menunjukkan bahwa gaya hidup yang cenderung sangat konsumtif menyebabkan naiknya tingkat pembelian.

Pemilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi oleh empat faktor psikologis, yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan serta kepercayaan. Motivasi adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak. Motif berasal dari bahasa Latin ‘movere’ yang berarti bergerak atau bahasa Inggrisnya ‘to move’. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif juga membantu kita membuat prediksi tentang perilaku. Persepsi menurut Dreverdalam Sasanti (2003) adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera. Sedangkan Sabri (1993) mendefinisikan persepsi sebagai aktivitas yang memungkinkan manusia mengendalikan rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat inderanya, menjadikannya kemampuan itulah dimungkinkan individu mengenali milleu (lingkungan pergaulan) hidupnya. Dari beberapa pengertian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa persepsi merupakan sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Lalu pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003) merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang mana penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba yang sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Sedangkan kepercayaan adalah adalah dasar pribadi subyektif untuk perilaku individu.

Faktor Marketing Strategy merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam memberitahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah barang, harga, periklanan dan distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini termasuk strategi pemasaran. Secara tidak langsung, strategi pemasaran merupakan faktor penentu tingkat pembelian. Jika strategi pemasarannya baik, maka tingkat pembelian konsumen akan tinggi.
Berdasarkan landasan teori, ada dua faktor dasar yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu Faktor Internal dan Faktor Eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri seorang konsumen. Faktor ini berupa motivasi, persepsi, sikap, gaya hidup, kepribadian dan belajar. Sedangkan Faktor Eksternal merupakan faktor yang berasal dari lingkungan sekitar seorang konsumen. Faktor ini berupa pengaruh keluarga, kelas sosial, kebudayaan, marketing strategy dan kelompok referensi. Kelompok referensi adalah kelompok yang memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung pada perilaku dan sikap konsumen.




Referensi :

0 komentar:

Posting Komentar